TOUR LEADER UMRAH PT. ARMINAREKA PERDANA

Mendampingi Jamaah Dari Keberangkatan Umrah hingga Kepulangan dan bertanggung jawab terhadap Jadwal Pelaksanaan dan Kelancaran Ibadah Umrah

Perawat Critical Care RSUD DR Soetomo Surabaya dan Distributor Buku Ventilator

Keseharian saya adalah bekerja sebagai PNS Perawat yang ditempatkan di Ruang Observasi Intensif dan PJ Penanggulangan Infeksi

CEO ENTERPRENURSE ORGANISER

Event Organizer Pelatihan Pemberdayaan Diri, Psychotherapist, Healing dan Team Building Outbond Specialist

OWNER RAJA FINGGERPRINT ANALYSIS SURABAYA

MELIHAT POTENSI LEBIH PASTI MELALUI RAHASIA SIDIK JARI. KARENA SIDIK JARI MEMILIKI STRUKTUR YG MENJADI IDENTITAS MULTI INFORMASI TERMASUK RUMUS PERSONALITY DAN POTENSI YANG TERSIMPAN DIDALAMNYA.

Distributor Buku VENTILATOR By KRISNA SUNDANA

SIAP PENGIRIMAN SELURUH INDONESIA

Tampilkan postingan dengan label Penanggulangan Infeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penanggulangan Infeksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Infeksi Nosokomial




Infeksi Nosokomial - Infeksi Nosokomial Bagi yang terjun dalam dunia medis serta juga keperawatan tentunya tidak akan asing dengan apa yang dimaksud dengan infeksi nosokomial. Apalagi berhubungan erat dengan Rumah Sakit nosokomial ini. Nah kali kali ini Blog Keperawatan akan mencoba share sedikit mengenaiinfeksi nosokomial rumah sakit.

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang belum ada ketika pasien masuk rumah sakit dan kemudian muncul ketika dalam masa perawatan inap di rumah sakit(umumnya 3x24 jam). Demikian kurang lebih pengertian infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial telah menyebar secara luas. Mereka juga merupakan kontributor untuk meningkatnya morbiditas dan kematian. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini.


Penyebaran utama penyebaran Infeksi nosokomial adalah : 
  1. Endogenous, self-infection atau auto-infection. Agen penyebab terjadinya infeksi nosokomial berasal dari pasien itu sendiri dan muncul ketika sedang rawat inap di rumah sakit sebagai akibat dari menurunnya daya imunitas tubuh pasien. (contohnya luka operasi yang belum sembuh dipegang dengan tangan pasien yang tidak bersih)
  2. Cross contamination diikuti dengan cross infection. Penyebaran infeksi nosokomial melalui kontak dengan agen kausatif baru yang kemudian terjadi infeksi baru. Kontak ini bisa berasal dari petugas paramedis, pasien lain, dan lingkungan seperti air, udara, makanan, serta prosedur dan alat medik (ventilator, iv line, catheter)
Pengetahuan mengenai hal pencegahan infeksi nosokomial ini sangat penting bagi seluruh petugas kesehatan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya yang hal tersebut merupakan sarana umum yang sangat berbahaya, dalam artian rawan, untuk terjadi infeksi. Kemampuan dalam hal mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit, dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan kesehatan dan juga pelayanan keperawatan yang bermutu.

Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah dengan cara meningkatkan kemampuan setiap petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions atau dalam bahasa kita adalah Kewaspadaan Universal ( KU ) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi. 

Cara Pengendalian Pencegahan infeksi nosokomial pada strategi Universal Precautions adalah meliputi beberapa hal di bawah ini :
  1. Personal hygiene
  2. Cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan dan air mengalir
  3. Penggunaan baju pelindung, masker, sarung tangan, dan penutup kepala
  4. Sterilisasi, desinfeksi, antiseptik dan dekontaminasi
  5. Kewaspadaan Universal pada pengelolaan dan penggunaan alat tajam(injeksi, iv line)
  6. Pengelolaan limbah dan lingkungan
  7. Surveilance
  8. Penetapan standar dan prosedur kerja
Tindakan surveilance yang tersebut di atas yang masuk dalam hal pengendalian infeksi Nosokomial (INOS) mengambil peran sangat penting dalam strategi pencegahan infeksi nosokomial. Dengan pemantauan terus menerus oleh tim yang telah dibentuk oleh rumah sakit untuk menemukan kasus infeksi nosokomial. Hal ini dilakukan untuk menjaga standar kualitas rumah sakit dan memantau prilaku para pekerja medis di rumah sakit.
Surveilance ini dilakukan dengan harapan dan juga tujuan :
  1. Menurunnya angka infeksi nosokomial di rumah sakit
  2. Menurukan angka morbiditas dan mortalitas pasien
  3. Mengubah prilaku tenaga kesehatan
  4. Melindungi tenaga kesehatan agar lebih waspada terhadap sumber infeksi di rumah sakit
Ada beberapa jenis infeksi Nosokomial (INOS). Berikut adalah jenis macam infeksi nosokomial yang sering ditemukan di Rumah Sakit : 
  1. Infeksi saluran kemih (paling sering). Infeksi ini paling sering disebabkan oleh pemasangan catheter. Biasanya terjadi apabila pemasangan yang tidak steril, fikasi yang kurang kuat, pemasangan melewati batas pengunggunaan( sebaiknya diganti 5-7 hari).
  2. Infeksi vaskuler. Paling banyak disebabkan oleh pemasangan infus. Sumber infeksi bisa berasal dari waktu dan cara pemasangan infus, jarum dan infus set, serta botol infus itu sendiri.
  3. Infeksi luka operasi. Resiko terjadinya infeksi luka operasi tergantung kepada jenis, macam operasi, keadaan umum penderita, ketrampilan dokter bedah, dan proses perawatan luka.
  4. Infeksi luka non operasi. Contohnya pada penanganan luka bakar dan dekubitus.
  5. Infeksi saluran pernapasan. Predisposisi terjadinya infeksi ini yaitu derajat keparahan penyakit pasien, rawat inap yang terlalu lama, usia rentan (terlalu muda atau tua) dan penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator).
Bagi kita tenaga kesehatan baik itu tenaga medis atau pun tenaga paramedis (perawat) infeksi nosokomial ini adalah musuh yang harus senantiasa di lawan dan jangan diberikan kesempatan untuk terjadi pada pasien-pasien yang tentunya mengharapkan kesembuhan bukan malahan "tambahan infeksi" selama masa pengobatan dan perawatan. Dan tentunya tiap Rumah sakit mempunyai protap tersendiri dalam hal menimalisasi terjadinya infeksi nosokomial ini. Dan semoga dalam memberikan pelayanan kesehatan angka kejadian infeksi nosokomial ini bisa ditekan serendah mungkin.

Jumat, 22 April 2011

VAP ( Ventilator Associated Pneumonia )

 VAP ( Ventilator Associated Pneumonia )

               Faktor Resiko VAP
               1. Aspirasi cairan lambung atau saliva
               2. Kondisi Pasien
                 Kondisi kritis
                 Kekebalan tubuh menurun
                 Kebersihan rongga mulut yang tidak baik ( Sumber Utama Kontaminasi )
       3. Penggunaan Antibiotik  Spektrum Luas
       4. Reintubasi Berulang 
5.Leak / Kebocoran pada Cuff (Silent Aspirasi )
6.Sirkuit dan Mesin yang tidak dilakukan secara Asepsis
7.Gangguan Nutrisi
8. Suction yang tidak aseptik 

PENEGAKAN DIAGNOSA VAP
   •  Klinis
   •  Radiologi
   •  Laborat
KLinis
     Fever (>38°C or >100.4°F)  
               Worsening gas exchange (e.g. O2 desaturations (e.g., PaO2/FiO2 < 240),
                 increased oxygen requirements.      
                     Worsening cough, or dyspnea, or tachypnea and ronchi sound
                           Rales or bronchial breath sounds
Radiologi
                   FOTO THORAK
a.Dilakukan < 24 jam setelah Pemasangan ETT
b.Selanjutnya dianjurkan Foto Setiap Hari à infiltrat
Laborat
              •Leukopenia (<4000 WBC/mm3) or leukocytosis (>12,000 WBC/mm3   
 
Penentuan mikro-organisme penyebab VAP
Mikro-organisme biakan isolat endotrakheal yang dinilai secara KUANTITATIF
Pengambilan kultur sputum secara steril menggunakan mucous extractor
 
PENCEGAHAN VAP
1. NON FARMAKOLOGI
Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
Head up 30-45o
Pemasangan NGT
—Intubasi yang benar dan menggunakan ETT

 


2. FARMAKOLOGI
Dekontaminasi Selektif ( menggunakan Antibiotika ) pada saluran cerna
Dekontaminasi Orofaring
 
žDekontaminasi Orofaring
Membersihkan rongga mulut ( Orofaring ) Menggunakan klorheksidin 0,2 % ( antiseptik/astringen )
žDilakukan setiap 8 jam ( 3x/Hari )
žDioleskan 30 ml zat tersebut keseluruh permukaan mukosa pipi, gusi, lidah dan gigi
žDengan memakai kasa dan SET Oral Higiene Steril selama ± 1 menit

žManfaat dekontaminasi Orofaring
1.Dapat menurunkan kolonisasi kuman penyebab VAP  sampai dengan 53% didalam mukosa mulut
2.Menurunkan Jumlah Angka Kejadian Infeksi Nosokomial saluran pernafasan hingga 69%
3.Mencegah Pembentukan Plak pada gigi
4.Menghindarkan pasien dari pemakaian AB lainnya
5.Menurunkan Angka kematian
6.Menurunkan beban biaya perawatan
7.Beban kerja berkurang
KLORHEKSIDIN
Klorheksidin merupakan salah satu jenis bahan desinfektan golongan kemis yang memiliki keuntungan berupa kemampuan untuk mencapai seluruh bagian dari gigi, dan resiko terjadinya kerusakan dan abrasi pada gigi
Klorheksidin sudah dikenal sejak tahun 1950. Klorheksidin memiki kemampuan antiseptik dan desinfektan dengan spektrum luas, sangat efektif untuk bakteri gram positif, gram negatif, bakteri ragi, jamur, serta protozoa.
Klorheksidin dapat menghambat pembentukan plak karena mempunyai kemampuan untuk :
a.Mengadakan ikatan dengan kelompok asam ionik glikoprotein saliva sehingga pembentukan pelikel yang diperlukan untuk kolonisasi bakteri plak terhambat.
b.Mengadakan ikatan dengan lapisan polisakarida yang menyelubungi bakteri sehingga perlekatan bakteri ke permukaan gigi terhambat.
c.Mengendapkan faktor-faktor aglutinasi asam yang ada dalam saliva dan menggantikan kalsium yang diperlukan sebagai perekat bakteri untuk membentuk massa plak.
d.Memiliki efek baterisidal karena molekul kationiknya berikatan dengan anionik bakteri yang akan mempengaruhi dinding sel bakteri dan selanjutnya mengganggu keseimbangan osmotis sel.

 

SOLUSI BBM HEMAT DAN RAMAH LINGKUNGAN - KLIK GAMBAR UNTUK PEMBELIAN